Berapa Kenaikan Harga Properti di Indonesia Setiap Tahun?

Salah satu sektor yang menunjukkan pertumbuhan luar biasa di Indonesia setiap tahunnya adalah pasar properti Indonesia. Dilaporkan kalau harga properti di Indonesia selalu naik setiap tahunnya.

Berdasarkan data, rata-rata kenaikan harga properti di Indonesia berkisar antara 10-20% per tahunnya. Di artikel ini, Santi akan membahas kenaikan harga properti di Indonesia dari tahun 2010 hingga 2017 dan apa yang menyebabkan kenaikan harga properti di Indonesia.

Harga properti naik pesat pada tahun 2010-2013

Pada tahun 2010-2013, dikabarkan kalau kenaikan harga properti naik 30%-40% setiap tahun. Bahkan di beberapa daerah seperti Tangerang dan Serpong, harga properti bisa naik hingga 70%.

Daerah seperti Tangerang dan Serpong dikabarkan mengalami kenaikan harga properti paling tinggi dibandingkan daerah lain di sekitaran Jakarta. Sebagai contoh, di kota Tangerang pada tahun 2010, harga tanah dibanderol sekitar Rp 1,8 juta/m2 dan naik menjadi Rp 6 juta/m2 pada tahun 2013.

Berdasarkan pendapat ahli, ada dua faktor yang menyebabkan kenaikan harga properti yang pesat pada tahun 2010-2013, yaitu adanya kenaikan pertumbuhan ekonomi di Indonesia pada tahun 2009-2013 dan juga penyesuain harga terhadap negara ASEAN lain.

Pada tahun 2010, bisa dikatakan kalau harga properti di Indonesia lebih murah dibandingkan negara-negara ASEAN lain. Tetapi sekarang sudah mulai banyak penyesuain, harga properti di Indonesia tidakkalah bila dibandingkan negara ASEAN lain.

Kenaikan harga properti di tahun 2016-2017

Indeks harga properti jenis rumah di Indonesia (16 kota besar) naik 3,1% sepanjang tahun 2016, menurut Bank Indonesia, namun bila disesuaikan dengan inflasi, harga properti di Indonesia justru turun sebesar 0,39% pada triwulan 2 (2016) dari tahun sebelumnya. Selama kuartal terakhir, harga properti jenis rumah naik sedikit, sebesar 0,36% (0,3% disesuaikan dengan inflasi).

Angka harga nominal properti terkadang bisa menyesatkan di Indonesia, karena inflasi sudah tinggi (meski sekarang melambat). Properti jenis rumah bisa dikatakan menarik bagi orang-orang kaya di Indonesia dan sebagian lainnya sebagai perlindungan terhadap inflasi.

  1. Seluruh kota besar di Indonesia melihat harga nominal properti naik sepanjang tahun sampai 2016.
  2. Batam memimpin kenaikan harga dengan harga rumah naik sebesar 10,65% (disesuaikan dengan inflasi 6,9%) hingga tahun Q2 2016.
  3. Kemudian diikuti oleh Bandar Lampung (8.46 ), Kota Medan (6,95%), Kota Medan (6,92%), Kota Bandung (5,77%), Makassar (5,66%), Banjarmasin (5,36%), Manado (5,27%), Surabaya (4,28%), dan Padang (3,93% ).
  4. Beberapa kota mencatat kenaikan harga nominal begitu kecil sehingga sebenarnya mereka benar-benar menurun nilainya, secara riil.
  5. Jabodebek-Banten, yang meliputi kota-kota komponen Jakarta (akronim: Jakarta, Bogor, Depok dan Bekasi), mengalami penurunan harga setelah inflasi sekitar 2,47% pada Q2 2016.
  6. Kota-kota lain dengan penurunan harga riil termasuk Pontianak (-1,77%) , Yogyakarta (-1,28%), Denpasar (-0,99%), Balikpapan (-0,77%), dan Semarang (-0,45%).

Sedangkan pada tahun 2017 pada kuartal 1, terjadi kenaikan harga properti jenis rumah yang lebih cepat di pasar primer berdasarkan survei yang dilakukan Bank Indonesia.

Hal ini tercermin dari indeks harga nominal properti yang naik 0,37% dari tahun sebelumnya menjadi 1,23%. Dilaporkan bahwa kenaikan harga properti tertinggi di Indonesia terjadi di Surabaya.

Jadi, apa yang sebenarnya mendorong kenaikan hargaproperti di Indonesia?

Pertama-tama, kenaikan harga properti terhubung dengan pertumbuhan ekonomi negara yang kuat. Dari tahun 2007 dan seterusnya, kecuali tahun 2009 ketika Indonesia merasakan dampak krisis ekonomi global, ekonomi Indonesia tumbuh lebih dari enam persen setiap tahunnya.

Di tahun-tahun mendatang, angka ini kemungkinan besar akan berlanjut pada kecepatan yang sama menurut lembaga penelitian internasional (termasuk Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional).

Pemerintah Indonesia bermaksud untuk meningkatkan angka pertumbuhan menjadi setidaknya tujuh persen, namun tampaknya masih terlalu jauh karena kurangnya kuantitas dan kualitas infrastruktur dan lemahnya pengelolaan publik secara umum.

Dengan meningkatnya produk domestik bruto (PDB) yang meningkat, PDB per kapita dan daya beli meningkat. Dengan demikian, semakin banyak pula orang Indonesia yang mampu untuk membeli properti.

Belanja konsumen yang kuat oleh kelas menengah di Indonesia yang meningkat telah menyebabkan kontributor terbesar pertumbuhan properti di Indonesia adalah segmen perumahan (rumah dan apartemen). Segmen ini menyumbang sekitar 60 persen dari total sektor properti di Indonesia.

Faktor penting lainnya yang berkontribusi terhadap kenaikan pasar properti di Indonesia adalah rendahnya nilai suku bunga. Sejak Februari 2012, BI mempertahankan suku bunga sebesar 5,75 persen, merupakan suku bunga utama yang rendah secara historis.

Bank umum Indonesia melihat pinjaman hipotek mereka meningkat secara substansial. Sekitar 46 persen dari total kredit di bank saat ini dialokasikan untuk pinjaman hipotek.

Ekonomi Indonesia yang sedang booming menarik investasi langsung asing yang signifikan (FDI). Sepanjang tahun 2012, FDI naik 26,0% menjadi Rp 221 triliun (Rp 23 miliar). Pada Q1-2013, ia melanjutkan langkahnya yang cepat dan membukukan pertumbuhan 27,2 persen menjadi Rp 65,5 triliun (USD 6,75 miliar).

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 390,3 triliun (USD $ 40,2 miliar) pada tahun 2013, meningkat 24,6 persen dibandingkan realisasi investasi pada tahun 2012. Dengan demikian, kedatangan banyak pihak internasional perusahaan mendorong permintaan di pasar perkantoran Indonesia.

Ini telah menghasilkan kenaikan harga sewa sebesar 30 persen karena ruang kantor baru di Kawasan Pusat Bisnis Jakarta (CBD) terbatas. Pada akhir tahun lalu, tingkat hunian di CBD Jakarta mencapai 93,0 persen, tingkat hunian tertinggi sejak 1990.

Kesimpulan

Harga properti di Indonesia naik pesat pada tahun 2010-2013 dan terus naik hingga sekarang. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan harga properti di Indonesia sangat pesat yaitu pertumbuhan ekonomi Indonesia dan permintaan pasar. Jadi bagaimana, Anda tertarik untuk membeli properti tahun ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *